ekonomi perhatian

bagaimana media sosial menjual waktu hidup kita demi profit

ekonomi perhatian
I

Pernahkah kita berniat mengecek ponsel sebentar saja, sekadar melihat pesan masuk, tapi tiba-tiba dua jam sudah menguap begitu saja? Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Rasanya seperti diculik alien, lalu tiba-tiba dikembalikan ke bumi dengan rasa bingung dan sedikit penyesalan. Saat ini terjadi, kita sering kali menyalahkan diri sendiri. Kita melabeli diri kita sebagai orang yang pemalas, kurang disiplin, atau tidak punya kendali diri. Tapi kenyataannya, di balik layar kaca yang menyala itu, ada ribuan insinyur jenius yang memang dibayar sangat mahal untuk memastikan kita tidak pernah meletakkan ponsel tersebut. Mereka sedang berburu. Dan yang sedang mereka buru bukanlah isi dompet kita secara langsung. Mereka memburu sesuatu yang jauh lebih berharga, sangat terbatas, dan sama sekali tidak bisa didaur ulang: waktu hidup kita.

II

Untuk memahami bagaimana kita bisa terjebak di titik ini, kita perlu mundur sejenak ke belakang. Dulu, sumber daya paling berharga di dunia adalah minyak, emas, atau rempah-rempah. Tapi di era digital ini, lanskapnya berubah total. Informasi ada di mana-mana dan melimpah ruah. Sayangnya, hukum ekonomi dasar mengatakan bahwa ketika sebuah hal menjadi sangat melimpah, pasti ada hal lain yang menjadi langka. Seorang psikolog sekaligus ekonom bernama Herbert Simon sudah memprediksi ini sejak tahun 1970-an. Ia menyatakan bahwa kekayaan informasi akan menciptakan kemiskinan akan hal lain, yaitu perhatian. Fenomena inilah yang sekarang kita kenal sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Dalam sistem ekonomi ini, perhatian manusia adalah komoditas yang diperjualbelikan. Ini bukan lagi sekadar papan reklame di pinggir jalan yang pasif dan berharap kita menoleh. Ini adalah sebuah mesin raksasa yang aktif mempelajari kelemahan psikologis kita. Mari kita renungkan sejenak, mengapa fitur tarik ke bawah untuk menyegarkan layar atau pull-to-refresh terasa sangat memuaskan bagi jari kita?

III

Rahasianya tersembunyi jauh di dalam tengkorak kita, tepatnya pada cara kerja sirkuit otak kita sendiri. Desain antarmuka media sosial sebenarnya menjiplak persis mekanisme mesin slot di kasino. Dalam dunia psikologi perilaku, konsep ini disebut variable ratio schedule atau jadwal imbalan yang tidak pasti. Saat kita menggulir layar, kita tidak tahu apakah kita akan melihat video hewan lucu, berita politik yang memancing amarah, atau pembaruan status dari teman lama. Ketidakpastian yang intens inilah yang membajak sistem dopamine di otak kita. Secara neurobiologis, dopamine bukanlah sekadar hormon kebahagiaan seperti yang sering dibicarakan orang. Ia pada dasarnya adalah hormon pencarian atau craving. Otak kita berevolusi untuk terus mencari informasi baru agar spesies kita bisa bertahan hidup di alam liar. Ribuan tahun lalu, insting ini membantu leluhur kita mencari makanan. Sekarang, insting purba ini dieksploitasi tanpa henti oleh algoritma. Mesin ini memetakan dengan presisi kapan kita bosan, kapan kita merasa sepi, dan kapan pertahanan mental kita paling lemah. Setiap ketukan, durasi tatapan mata, dan seberapa lama jari kita berhenti di sebuah konten, semuanya direkam. Namun, pertanyaan besarnya adalah: untuk apa semua data super detail ini dikumpulkan secara masif?

IV

Jawabannya mungkin akan sedikit membuat kita merinding. Kita sering mendengar pepatah usang di dunia teknologi: "kalau aplikasinya gratis, berarti kitalah produknya". Tapi pernyataan itu ternyata belum sepenuhnya tepat. Perusahaan media sosial raksasa itu tidak sekadar menjual data diri kita. Mereka menjual kepastian masa depan dari perilaku kita. Mereka menjanjikan kepada para pemasang iklan bahwa dengan bantuan algoritma mereka yang super akurat, kita pasti akan melihat, mengklik, dan pada akhirnya membeli atau terpengaruh. Untuk mencapai tingkat akurasi ramalan tersebut, mesin kecerdasan buatan mereka butuh bahan bakar yang sangat besar. Dan bahan bakar itu adalah porsi dari waktu hidup kita. Setiap detik yang kita habiskan untuk doomscrolling tanpa tujuan adalah detik yang hilang. Detik yang seharusnya bisa kita gunakan untuk tidur nyenyak, belajar hal baru, atau menatap mata orang-orang yang kita cintai. Secara harfiah, model bisnis ini menambang umur kita untuk diubah menjadi triliunan dolar profit. Mereka mengambil sepotong eksistensi kita di dunia nyata, memerasnya, dan mengubahnya menjadi angka-angka di bursa saham.

V

Mengetahui fakta-fakta keras ini mungkin membuat kita merasa kecil dan tidak berdaya. Tapi sungguh, tujuan saya mengajak teman-teman membedah hal ini bukanlah untuk menebar ketakutan atau membuat kita menjadi anti-teknologi. Saya justru ingin kita mulai menumbuhkan empati yang besar pada diri kita sendiri. Jika belakangan ini teman-teman merasa sangat susah untuk fokus bekerja atau mudah merasa cemas, tolong jangan terlalu keras pada diri sendiri. Ketahuilah bahwa kita sedang bertarung satu lawan satu melawan superkomputer yang moncongnya diarahkan langsung ke otak kita. Wajar jika kita sering kalah telak. Namun, kesadaran adalah anak tangga pertama menuju kebebasan. Kita mungkin tidak bisa (dan tidak perlu) sepenuhnya membuang media sosial dari hidup kita. Tapi kita bisa mulai mengambil kembali kendali, sedikit demi sedikit. Matikan notifikasi yang tidak esensial. Jauhkan ponsel dari tempat tidur. Mari kita rebut kembali kedaulatan atas pikiran kita sendiri. Karena pada akhirnya, di penghujung usia nanti, kita tidak akan pernah mengingat berapa banyak konten viral yang sudah kita konsumsi. Kita hanya akan mengingat hidup, momen, dan kehangatan yang benar-benar kita jalani secara nyata.